Jumat, 28 Januari 2011

KOTA METRO


KOTA METRO


Metro semula merupakan ibukota Kabupaten Lampung Tengah, namun sejak terpecahnya Kabupaten ini menjadi beberapa Kabupaten dan Kota, maka Metro berubah status sebagai Kota dan tidak lagi menjadi Ibukota Kabupaten Lampung Tengah. Metro merupakan salah satu kota besar di Lampung disamping Bandar Lampung dan Bandar Jaya. Semula kota ini berkembang dari adanya Program Transmigrasi dan pembukaan lahan oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang terletak antara daerah bukaan Trimurjo dan Pekalongan sekarang. Pada masa itu Metro atau Meterm (Belanda = pertengahan) merupakan tempat pemukiman para Transmigrasi dari Pulau Jawa dalam rangka pembukaan irigasi dan persawahan yang dilakukan Pemerintah kolonial Belanda.

METRO KOTA TRANSMIGRASI
Daerah ini kala itu merupakan bagian Order Afdeling Sukadana Keresidenan Lampung. Sebagai bagian dari Order Afdeling / Kewedanaan, wilayah ini di pimpin oleh seorang Kepala Distrik dalam rangka mengatur Tata Pemerintahan bagi Daerah yang baru di buka tersebut dengan pengiriman/ transmigrasi Penduduk dari Pulau Jawa dikenal dengan istilah Kolonisasi. Dan sesuai dengan perkembangan Penduduk serta kebutuhan pemukiman maka pada lokasi tersebut berdirilah Kota Metro pada tahun 1936 berikut perangkat-perangkat pemerintahannya. Kini Metro telah berkembang menjadi sebuah kota besar dengan segala sarana dan prasarana kotanya, jaringan bus antar kota/ Provinsi di Jawa, Hotel dan lain-lain cukup tersedia bagi keperluan pengunjung yang menuju kota ini. Sebuah Masjid besar (Mesjid At-Taqwa) akan terlintasi oleh pengunjung yang melakukan perjalanan ke Taman Nasional Way Kambas/ Sekolah Gajah. Sebuah kanal irigasi membentang dari dam Argoguruh  sepanjang 15 km (dibuat tahun 1931 oleh Pemerintah Kolonial Belanda ) Membelah kota bagian selatan.

KERAGAMAN BUDAYA
Penduduk Kota Metro terdiri dari berbagai latar belakang suku budaya penduduk asli Lampung dan pendatang seperti Jawa, Sunda, Batak, Bali, Padang, Palembang dan sebagainya. Meskipun terdapat beragam etnis, kehidupan saling menghormati dan menghargai merupakan ciri masyarakat Kota Metro yang digali dari sifat dasar daerah “Nengah Nyapur” yaitu sifat membuka diri dalam pergaulan masyarakat umum dan ikut berpartisipasi terhadap segala sesuatu  yang sifatnya baik dalam pergaulan bermasyarakat. Latar belakang suku penduduk di Kota Metro beraneka ragam, yang sebagian besar berasal dari Jawa, Sumatera Barat, Lampung dan Tionghoa. Seni budaya juga berkembang sesuai  daerah asalnya. Keanekaragaman budaya ini menjadikan keunggulan tersendiri bagi Kota Metro untuk menarik wisatawan. Adat istiadat daerah yang berkembang di Kota Metro adalah Adat Pepadun yang dikenal dengan nama Abung Siwo Mego dan Pubian Telu Suku. Adapun upacara adat tradisional yang sering dilakukan yaitu ditandai upacara adat pernikahan/ perkawinan dengan tidak meninggalkan hukum islam yang merupakan anggapan adalah merupakan bagian dari tata cara adat itu sendiri. Guna mempromosikan obyek wisata dan budaya daerah, maka pada peringatan Hari Jadi Kota Metro setiap tanggal 9 Juni, Pemerintah Kota Metro menggelar festival Kota Metro yang digabungkan dengan Metro Expo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar